登入選單
返回Google圖書搜尋
Demokrasi Indonesia dan Keadilan Keragaman Hayati Indonesia
註釋

Epistemologi pertanggungjawaban kesalehan sosial-ekologis ini menggunakan pembacaan “theological-biodiversity-hermeneutics” yang dibantu oleh ontological-turn Martin Heidegger dan etika relasional Martin Buber dan Immanuel Levinas. Penggunaan ontological turn Heidegger yang menekankan kejamakan realitas akan membantu untuk memberi pengakuan ontologis secara teologis kepada alam Indonesia dan keragaman hayati Indonesia adalah sesama subjek kehidupan dalam ingatan emansipatoris Sang Hidup Allah dalam Yesus Kristus dan Roh Kudus. Dan yang mengingatkan kita bahwa dominasi manusia atas alam dan keragaman hayati di dalamnya itu lebih disebabkan oleh persepsi dan perspektif manusia yang terbatas menangkap keutuhan kejamakan realitas itu.[1] Dalam orasi ini juga akan memperluas pengertian etika relasional humanisme Buber dan Levinas yang meliputi relasi manusia dan alam dengan keragaman hayati di dalamnya. Suatu relasi antarsubjek seperti relasi antarsubjek sesama manusia.[2] Maka yang dimaksud dengan “theological-biodiversity-hermeneutics” di sini ialah membaca dan memahami pesan teologis kesaksian iman teks-teks alkitabiah dari perspektif keragaman hayati (biodiversity perspective). Perspektif heremeneutis ini akan membuat kesaksian teks-teks kanonik alkitabiah (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) lebih bisa menyapa dan mewakili rasa sakit yang dialami oleh keragaman hayati sebagai korban ketidakadilan. Imajinasi hermeneutis ini akan menghasilkan teologi sosial-ekologis yang saya sebut: eko-teologi biososiodiversiti yang peka terhadap masyarakat dan keragaman hayati sebagai korban ketidakadilan dalam proses berdemokrasi Indonesia.[3]    


[1] Lihat Zygmunt Bauman, Hermeneutics and Social Science: Approaches to Understanding. London: Hutchinson &CO (Publishers) Ltd, 1978, 148-171. Lihat juga L.G. Saraswati Putri, Dimensi Ontologis Relasi Manusia dan Alam: Suatu Pendekatan Femenologis Lingkungan terhadap Disekuilibirium (Disertasi), Jakarta: UI, 2013 ; F. Budi Hardiman, “Sesudah Pudarnya Kegaiban Dunia: Pencerahan dan Seni Religius”, dalam Basis, Nomor 09-10, Tahun Ke-73, 2024, 9-10 dan F. Budi Hardiman, Heidegger dan Mistik Keseharian, Jakarta: KPG, 2016.

[2] Untuk etika relasional Martin Buber, lihat bukunya I and Thou (Second Edition), New York: Charles Scribner’s Sons, 1953 dan untuk etika relasional Immanuel Levinas lihat bukunya, Emmanuel Levinas, Otherwise Than Being or Beyond Essence, Pittsburgh: Duquesne University Press, 1981.

[3] Secara eksperimental saya pernah menerapkan hal ini dalam artikel saya. Lihat Julianus Mojau, “Ideologi-Ideologi Pelestarian Alam, Hermeneutik Biodiversiti, dan Keadilan Ekologis”, dalam Lady Paula R. Mandalika, Christina J. Hutubessy, Siryandris J. Botara, dan Aprissa Taranau (eds.), Ekoteologi: Refleksi Kontekstual dan Aksi Lintas Iman untuk Keadilan Sosial-Ekologis, Makassar: Yayasan Oase Intim, 2023, 2050223.Di sini saya memperoleh banyak inspirasi dari karangan-karangan dalam Saulius Geniusas (ed.), Stretching the Limits of Productive Imagination, London dan New York: Rowman & Littlefield, 2018.